Skip to main content
Zang Sefikra · Wilayah Catatan Zairulfikri Raya

An Revisit to an Old Draft: The Central of Intellect

"The word 'aqal' in Arabic, referring to our human intellect brings the meaning of ' to tie something'. 

 What will happen if we tie something, for example, tying the horses to the mooring pole? 

 It restraints the movement of the horse. 

 Therefore, we can conclude that our intellect has a job in managing our live- it restraints something. 

 Some will ask what the intellect restraints? 

 I would say it is clearly that the intellect restraints irrational emotions and temptations that arises within ourselves. 

 In other words, intellect hold ourselves back during such unstable condition. The reasoning is clear that when our emotions are high, our mind shut off.

 Why suddenly I came out with this topic today?

Negotiation is a part of challenge in life that involve the efficient usage... "


I wrote t
he above passage in November 2020 and left it as an incomplete draft in my Blogger console. It was very unfortunate that the flow of idea stopped before I drilled down further the connection between negotiation and the meaning of intellect.

But nevermind, I think it gives me the chance to revisit the above idea based on my current state of knowledge and experience, insyaAllah.

La Haula Wa La Quwwata Illa Billah.

Okay, now let me try to recap in a short sentence what does the passage is trying to tell.

Aqal = to tie something/to restraint something - restraint irrational emotions and temptations that arises within ourselves.

Now let me try to connect the above concept with the topic 'Negotiation', using 
my own words, without referring to ChatGPT or Google.

Yeap, let the brain works a bit.

Negotiation, or as in Malay we called it "Perundingan" is a process of pitching your idea to a counterparty and try to get that counterparty to buy your idea.

If the counterparty buy your idea, then the negotiation is successful. If vice versa, something need to be revisited.

Okay now, what is the relation between negotiation and the intellect that has a restraining characteristic?

I suppose, my old self is trying to connect that internally, we are always negotiating with ourselves. We always negotiate with our lust that always pitching to us to do bad things or not doing something worth writing.

But wait.

In business settings, we only negotiate if the counterpart, we believe, can accept our terms, and can bring benefit to us. Or at least, can bring win-win situation to both parties.

Hence, if we say we are always negotiating with our lust, let us take one step back, is the lust entity is worthwhile entity to be in the negotiation from the onset?

I think the answer is big NO.

If that is the answer, this is where the AQL comes in and restraint the lust from governing ourselves and make us fall into a fail state that is full of despair, loss and sadness.

I suppose the above may explain what my own self intend to explain before. 

May Allah guide us to the Straight Path

Amiin Ya Rabb

Al-Faqir ila Allah
Abdullah wa Abd Al-Hakim
Muhammad Zairulfikri bin Zailani




 

 


Comments

Popular posts from this blog

Kembali ke Bahasa Arab

Alhamdulillah, setelah sudah sekian lama tidak menjengah ke ruangan ini, Allah masih beri lagi peluang untuk menaiktaraf blog ini untuk kelihatan lebih moden dan kompak, bermatlamat untuk menzahirkan kesyukuran atas segala nikmat Allah yang telah diberikan kepada hambaNya yang fakir ini. Benar, lama sungguh aku menyepikan diri. Bermula dari keputusan penutupan akaun Facebook, Instagram, X dan segala macam media sosial sehingga sunyinya status Whatsapp dari segala celoteh dan kongsi buat seberapa ketika. Sebenarnya, segala kesunyian maya ini ialah salah satu usaha kecil diri untuk memahami dan meraikan kehadiran seorang teman setia mulia hingga ke hujung nyawa, satu insan yang Allah anugerahkan, takdirkan, titipkan dan hadiahkan buat diri dan kehidupan yang fana ini. Bahkan, sebenarnya untuk kembali merenung ke dalam diri, dan menggali hakikat sebenar kehidupan, amal usaha, dan jalan usaha yang mahu ditempuh. Betapa Maha Baik dan Maha Pemurahnya Allah, setelah seberapa sejenak berubahny...

Nota Kuliah Subuh | Fiqh Muamalat: Akad Hibah

4 Safar 1448H | 19 Julai 2026 Masjid Al-Makmur Kampung Giching Penceramah: Ustaz Saiful Adlie Misnan Alhamdulillah, kuliah Subuh pada pagi ini meneruskan perbahasan mengenai akad hibah , khususnya berkaitan rukun, syarat dan sighah (ijab dan qabul) menurut fiqh, dengan penekanan kepada pandangan Mazhab Syafi'i. Pengenalan Hibah ialah pemberian harta secara sukarela tanpa sebarang balasan ('iwad). Hadiah merupakan salah satu bentuk hibah yang lazimnya diberikan sebagai tanda kasih sayang. Akad hibah tidak terlepas daripada rukun dan syarat. Sekiranya salah satu daripadanya tidak dipenuhi, akad menjadi tidak sah. Ringkasan Kuliah Sebelumnya 1. Pemberi dan penerima hibah Hibah mestilah melibatkan dua pihak: Pemberi hibah (al-Wahib) Penerima hibah (al-Mawhub Lahu) Syarat pemberi hibah: Pemberi hibah mestilah: pemilik sebenar harta tersebut; mempunyai keahlian (ahliyyah) untuk melakukan tasarruf terhadap hartanya. Hibah menyebabkan seseorang mengeluarkan hartanya tanpa memperoleh b...

Ringkasan Kuliah Subuh 1 Ogos 2026 (Ustaz Misron) : Tafsir Al-Azhar (Surah Al-Ghasiyah dan Surah Al-Fajr)

Mukadimah Kuliah: Bersyukur dengan segala rezeki Allah dalam segala bentuk Jaga hati apabila menerima rezeki Allah Jangan merasa diri baik walau diberi rezeki Allah Tafsir Al-Azhar: Surah Al-Ghashiyah Ulangkaji Kuliah Lepas Tugas Rasulullah: Menyampaikan Bukan Tugas Rasulullah: Menjadikan orang beriman Kuliah Minggu ini: Ayat 25: إِنَّ إِلَيْنَآ إِيَابَهُمْ Maksud: Sesungguhnya kepada Kamilah kembalinya mereka Pengajaran: Minta dan berusaha membetulkan Aqidah sebelum dikembalikan. Berusaha mendapat redha Allah Imarahkan bumi sebaiknya sebelum mati. Tidur = Mati. Bangun = Diberi peluang. Syukur Semua akan mati, kemudian akan dibangkitkan Ayat 26: ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُم Maksud: Selain dari itu, sesungguhnya tanggungan Kamilah soal menghitung amal mereka Pengajaran: Hitung tak sama dengan timbang. Adilnya Allah = Allah bukan hanya hitung, tetapi timbang juga amalan. Jaga hati, kerana ini akan ditimbang. Jika rasa diri lebih baik, itu tidak baik. Penyampai tidak salah ...